Jumat, 10 Agustus 2012

Tetap Menjaga Kesucian Diri


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللهٌ اَكْبَرْ 9× كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً. لاَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ وَِللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ اْلاَعْيَادَ بِاْلاِفْرَاحِ وَالسُّرُوْرِ وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ جَزِيْلَ اْلاُجُوْرِ. وَكَمَّلَ الضِّيَافَةَ لِعُمُوْمِ الْمُؤْمِنِيْنَ بِسَعْيِهِمُ الْمَشْكُوْرِ. فَسُبْحَانَ مَنْ حَرَّمَ صَوْمَهُ وَاَوْجَبَ اِفْطَارَهُ وَحَذَّرَ فِيْهِ مِنَ اْلغُرُوْرِ. اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالى مِنْ اِلهٍ اَعَادَ اْلاَعْياَدَ بِالسُّرُوْرِ. وَاَدَّخِرُهَا بِكُلِّ عَمَلٍ مَبْرُوْرِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. اَلْعَفُوُّ الْغَفُوْرُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلرَّ‌حِيْمُ الْمَشْهُوْرُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَاَصْحَابِهِ الّ‍َذِيْنَ كَانُوْا يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ.
اَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ, اِتَّقُوا الله 3×, اِصْبِرُوْا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوْا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ يَوْمَكُمْ هَذا يَوْمٌ عَظِيْمٌ. وَعِيْدٌ مُباَرَكٌ سَعِيْدٌ كَرِيْمٌ. اَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ. وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّياَمَ.
Jama’ah ‘Idul Fitri yang dimuliakan Allah Swt.
Pertama dan yang utama marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur, alhamdulillahirobbil ‘alamiin, bahwa pada pagi hari yang barokah ini kita bisa berkumpul di masjid ini untuk melaksanakan shalat ‘Idul Fitri. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad Saw, keluarga, dan para sahabatnya.  Semoga kita tergolong ummatnya yang akan menadapatkan syafaatnya kelak di yaumil hisab. Amiin ya robbal ‘alamiin.
Pada ‘idun mubarok pagi ini, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah Swt, taqwa dalam pengertian sebenar-benarnya. Marilah kita berusaha agar ibadah-ibadah yang kita laksanakan dapat membuahkan hasil barupa sikap mental yang positif dan terpuji bagi kehidupan umat manusia.

Jama’ah ‘Idul Fitri yang dimuliakan Allah Swt.
‘Id artinya “ulangan” atau “putaran” atau “siklus”. Hari raya disebut dengan ‘Id, karena ia akan selalu datang dan kembali berulang-ulang. Makna fitri ada yang berpendapat artinya sama dengan fitrah. Fitrah bersangkutan dengan salah satu ajaran yang amat penting dalam Islam, yaitu bahwa manusia dilahirkan dalam kejadian asal yang suci dan bersih (fitrah), sehingga manusia bersifat hanif (artinya secara alami manusia selalu merindukan dan mencari kebenaran).
Karena manusia bersifat hanif, maka kepalsuan dan kejahatan akan bertentangan dengan jati diri dan nurani manusia itu sendiri. Kalau kita berbuat dosa maka hati kita menjadi tidak tentram, gundah. Itulah penolakan nurani kita terhadap dosa yang kita lakukan.
Dosa disebut sebagai perbuatan zhalim. Zhalim artinya “gelap”. Dosa disebut ke-zhaliman karena membuat hati kita menjadi gelap. Karena itu jika kita terlalu banyak berbuat dosa, maka hati kita yang bersifat nurani, bersifat nur (cahaya) akan menjadi rusak, menjadi buram, gelap dan berubah menjadi nafsu zhulmani, yaitu jiwa yang gelap. Inilah pangkal kesengsaraan lahir dan batin.
اَللهُ اَكْبَرْ3× وَِللهِ الْحَمْدُ
 Jama’ah ‘Idul Fitri yang dimuliakan Allah Swt.
Berakhirnya bulan Ramadhan kemarin sore telah menghadirkan dua perasaan sekaligus pada jiwa kita, yakni perasaan sedih dan gembira. Kita sedih karena Ramadhan terasa begitu cepat berlalu, padahal belum banyak rasanya amal ibadah dan amal shalih yang kita lakukan. Sedangkan tahun depan belum tentu Ramadhan bisa kita masuki kembali, bukan karena dia tidak akan datang lagi, tapi persoalannya belum tentu usia kita sampai pada Ramadhan tahun yang akan datang.
Meskipun demikian kita juga gembira karena dengan ibadah Ramadhan yang kita laksanakan, ada harapan besar yang bisa kita raih, yakni ampunan dosa dari Allah dan dikembalikan kita seperti saat baru dilahirkan sehingga bukan hanya dosa yang terhapus, tapi kita diharapkan memiliki tauhid atau aqidah yang mantap. Dari jiwa dan hati yang bersih inilah akan muncul ketaqwaan dan kepasrahan yang sejati sebagai bekal kita menuju perjalan selanjutnya yaitu perjalanan ke alam akhirat. Di akhirat nanti tidak ada yang lebih menyelamatkan kita, kecuali hati yang bersih. Sebagaimana firman Allah Swt

يَوْمَ لاَيَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنَ اِلاَّ مَنْ اَتَى اللهِ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

“Pada hari tiada bermanfaat harta benda, dan tidak pula anak-anak, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang suci (Q.S. Asy-Syu’ara: 88-89)

اَللهُ اَكْبَرْ3× وَِللهِ الْحَمْدُ
Kaum muslimin-muslimat, jama’ah sholat ‘Idul Fitri rohimakumullah,
Setelah kita berhasil memerangi hawa nafsu dan menyatakan kemenangannya pada hari ini, bukan berarti kita bebas dari ancaman dan intaian musuh. Justru kita harus tetap waspada dan sedapat mungkin mempertahankan kemenangan ini, karena musuh kita yang berprajuritkan hawa nafsu masih selalu mencari kesempatan untuk dapat membalas kekalahannya. Sebagaimana dinyatakan Rasulullah Saw, dalam sebuah hadits yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbih beliau berkata:
“Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya iblis terlaknat pada setiap hari raya Id, berteriak-teriak minta tolong sehingga berkumpulah keluarganya di sekitarnya dan bertanya: “Wahai paduka, siapakah gerangan yang membuat paduka marah? Sungguh kami akan menghancurkan mereka” Lalu iblis menjawab, “Tidak ada, hanya saja pada hari ini Allah telah mengampuni dosa-dosa umat Muhammad, maka kalian harus bisa menggoda mereka dengan berbagai keenakan, kesenangan dan minum-minuman keras, sehingga Allah menjadi murka kepada mereka”.
Begitulah kelakuan iblis terhadap manusia. Iblis tidak suka bila kita, umat Muhammad mendapat ampunan dari Allah Swt. Untuk itu kita harus waspada terhadap cara-cara iblis dalam menggoda manusia agar kita tidak terjerumus dalam kemaksiatan yang hina. Karena iblis akan datang dari semua arah untuk menggoda kita. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Surat Al-A’rof:16-17,
اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. قَالَ فَبِمَا اَغْوَيْتَنِي َلأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ. ثُمَّ َلأَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شَاكِرِيْنَ
“Iblis berkata: “Karena Engkau (Allah) telah menghukum saya tersesat, maka saya akan menghalang-halangi mereka (manusia) dari jalan engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.
Syetan akan menggoda manusia dari arah depan, yaitu menggoda manusia agar lupa hari depan, lupa kepada waktu dan umurnya yang semakin hari semakin berkurang. Lupa bahwa amal perbuatannya besok akan dihisab. Kemudian  syetan juga akan menggoda manusia dari belakang, yaitu menggoda manusia dengan urusan dunia. Segala waktu dan tenaga tercurah untuk urusan dunia. Padahal kemegahan, kemewahan. dan kebendaan sebanarnya merupakan perkara manusia yang ada dibelakang, sebab semua itu akan ditinggalkan. Sedangkan manusia terus melaju ke arah tua dan kematian.
Ingatlah, syetan akan datang menggoda manusia dari arah kanan, yaitu dari arah kebaikan. Usaha dan perbuatan baik dan terpuji diurungkan. Amal sholeh dilumuri dengan ketidakikhlasan. Amal perbuatan yang tampak mulia dinodai dengan rasa riya, sombong dan ujub. Sebaliknya perbuatan yang jelek dan melanggar syariat, dicarikan hilahnya, dicarikan alasannya dengan logika agar dianggap baik, dan seakan-akan benar. Kemudian syetan akan mendatangi manusia dari arah kiri, yaitu dari arah kejelekan. Manusia diajak untuk berbuat dosa dan melakukan perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah Swt.
Oleh kerana itu, 1 Syawal idealnya kita jadikan sebagai tonggak untuk meningkatkan pertahanan kita. Keinginan hawa nafsu yang menjadi prajurit syetan jangan sekali-kali kita turuti. Jangan sampai hari yang agung ini diisi dengan kegiatan yang justru akan mendatangkan dosa dan fitnah. Kalau ini yang terjadi maka hari itu menjadi kemenangan bagi syetan. Na’udzubillah min dzalik.
Saat Idul Fitri tiba, Rasulullah Saw pernah berwasiat:
اِجْتَهِدُوْا يَوْمَ اْلفِطْرِ فِى الصَّدَقَةِ وَأَعْمَالِ الْخَيْرِ وَالْبِرِّ مِنَ الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ وَالتَّسْبِيْحِ وَالتَّهْلِيْلِ فَاِنَّهُ الْيَوْمُ الَّذِيْ يَغْفِرُ اللهُ فِيْهِ ذُنُوْبَكُمْ وَيَسْتَجِيْبُ دُعَاءَكُمْ وَيَنْظُرُ اِلَيْكُمْ باِلرَّحْمَةِ
“Bersungguh-sungguhlah kalian pada hari raya fitrah dalam bersedekah dan perbuatan-perbuatan yang bagus serta amal kebajikan (seperti) shalat, zakat, membaca tasbih dan tahlil. Karena hari itu adalah hari (dimana) Allah mengampuni dosa-dosa kalian, mengabulkan segala doa kalian dan Allah memandang kalian dengan penuh kasih sayang”.
Hadits ini mengingatkan kepada kita agar apa-apa yang kita kerjakan pada hari raya seperti shodaqoh, shalat, zakat, takbir, tasbih, tahmid dan tahlil, harus disertai dengan iman, dan semata-mata karena mengharap keridloan Allah Swt.
اَللهُ اَكْبَرْ3× وَِللهِ الْحَمْدُ
Kaum muslimin-muslimat, jama’ah sholat ‘Idul Fitri rohimakumullah,
Kita sudah memaklumi bersama, bahwa kita diwajibkan berpuasa sebagaimana umat-umat sebelum kita supaya kita menjadi orang yang bertaqwa. Taqwa adalah derajat dan martabat yang paling tinggi di hadapan Allah Swt. (inna akromakum ‘indallohi atqokum). Orang yang bertaqwa pasti akan mendapatkan surga. Sebagaimana firmanNya:
اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَسَارِعُوْا اِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Ali Imron:133)
Orang-orang bertaqwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah mereka yang memiliki ciri-ciri sebagaimana dijelaskan dalam ayat selanjutnya, yaitu
Pertama, اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik diwaktu sempit maupun lapang.
Kedua, وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ yaitu orang-orang yang menahan amarahnya.
Ketiga, وَاْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ yaitu orang yang memaafkan kesalahan orang lain.
Keempat, وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْظَلَمُوْا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوْا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوبِهِمْ yaitu orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.
Itulah ciri-ciri orang yang bertaqwa yang akan diberi kenikmatan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
Oleh karena itu, marilah kita introspeksi diri, muhasabah, bertanya pada diri kita sendiri. Sudahkan kita menafkahkan sebagian harta kita, membayarkan zakat penghasilan kita, sudah mampukah kita menahan amarah, sudah ikhlaskah kita memaafkan kesalahan orang lain, sudahkan hari-hari kita, setiap hembusan nafas kita, kita isi dengan mengingat asma Allah.
 Subhanallah, kalau kita hitung, berapa banyak harta kita yang mubadzir, kita hamburkan untuk keperluan yang tidak perlu, untuk kenikmatan diri sendiri. Membeli makanan dan minuman yang kita sukai, membeli pakaian, dan macam-macam kenikmatan dan kesenangan pribadi. Sudahkan kita menghitung, berapa banyak orang yang pernah kita sakiti, berapa banyak orang yang pernah kita kecewakan. Mungkin teman kita, mungkin tetangga kita, mungkin saudara-saudara kita, bahkan mungkin orang-orang yang kita cintai, istri kita, anak-anak kita, dan orang tua kita sendiri.
يَا غَفَّارْ3×
Ya Allah, ampunilah atas kesalahan dan kebodohan kami.
اَللهُ اَكْبَرْ3× وَِللهِ الْحَمْدُ
Oleh karena itu, marilah momentum Idul Fitri ini kita isi dengan silaturrahmi, memohon maaf kepada mereka yang tersakiti, mengikhlaskan segala kekecewaan, memaafkan siapapun yang pernah berbuat salah. Sebab kebencian dan dendam justru akan mengotori hati kita, akan menutupi hati kita dari rahmat dan hidayah Allah Swt.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَاْلفَاِئزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ. كُلُّ عَامٍ وَاَنْتُمْ بِخَيْرٍ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ باِلسَّعَادَةِ وَالْمَغْفِرَةِ آمِيْنَ.
اَعُوذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى. وَذَكَرَ اْسمَ رَبِّه فَصَلّى. بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَوةَ الدُّنْيَا. وَاْلاَخِرَةُ خَيْرٌ وَاَبْقَى. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ.

----------------------------------------------

Khutbah ke-2

اَللهٌ اَكْبَرْ 7× كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً. لاَاِلهَ اِلاَّاللهُ هُوَاللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ وَِللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ عَلى اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلى تَوْفِيْقِهِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ.  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِىالِىَ رِضْوَانِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَتُبَّاعِهِ, وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَمَّا بَعْدَهُ, فَيَا عِبَادَ الله, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَسَارِعُوْا اِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
Ma’asyirol muslimin, Jamaah Idul Fitri rohimakumullah
Dari khutbah awal, dapat diambil kesimpulan Pertama, bahwa yang terpenting  setelah kita melaksanakan puasa dan hari raya idul fitri adalah kita harus mempertahankan kesucian diri, tetap waspadah terhadap godaan syetan karena syetan selalu mengintai kelengahan kita. Kedua, kuatkan hati kita untuk menjaga iman dan taqwa kita dengan memperbanyak amal ibadah dan berakhlakul karimah. Iman dan taqwa adalah hal pokok sebagai bekal hidup, karena keduanya merupakan sumber pertolongan Allah Swt.
Selanjutnya marilah kita memohon kepada Allah Swt agar senantiasa mendapat rahmat, taufik dan hidayahNya sehingga termasuk golongan orang-orang yang bertaqwa, serta mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Amiin ya robbal ‘alamiin.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ اَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِيْنَ
Ya Allah, ya ‘Afuwwu ya Ghoffar,
Sesungguhnya kami memohon kepadaMu ampunan, ampunilah dosa-dosa kami, dosa bapak ibu kami, keluarga kami, istri dan anak-anak kami, dosa kaum muslimin muslimat yang masih hidup maupun yang sudah wafat.
Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan damai, negeri yang diberkahi, negeri yang sejahtera lahir dan batin.
Ya Allah, ya Mu’min ya Muhaimin. Kami memohon kepadamu iman yang kuat, iman yang langgeng, hati yang khusyu’, ilmu yang bermanfaat, kesehatan yang sempurna, dan kami memohon kepadamu kecukupan dari semua manusia.
Ya Allah, terimalah sholat kami, puasa kami, ruku’ dan sujud kami, khusyu’ kami, zakat kami, kerendahan hati kami, dan pengabdian kami.
Ya Allah, ya Syakur. Jadikanlah kami hamba-hambaMu yang pandai bersyukur atas nikmat-nikmatMu, tambahkan dan sempurnakanlah nikmat atas kami.
Ya Allah, jadikanlah keluarga kami keluarga yang sejahtera, keluarga yang diberkahi atas RidloMu. Jadikanlah anak-anak kami, cucu-cucu kami, keturunan yang sholeh, yang memiliki kekuatan iman, ketaqwaan dan amal sholeh. Berilah kami keturunan, anak cucu yang qurrota a’yun yang menyenangkan bila dipandang mata, yang berakhlakul karimah, yang ahli beribadah, keturunan yang ‘alim.
Ya Allah, ya Wahhab, ya Rozzaq, ya Ghoniyu ya Mughni. Berilah kami kesejahteraan lahir dan batin. Mudahkanlah dalam usaha kami, dalam pekerjaan kami. Berkahilah jalan usaha kami, perdagangan kami, pertanian kami, dan pekerjaan apapun yang kami jalani.
Cukupkanlah kami dengan pemberianMu yang halal. Jauhkanlah kami dari barang-barang yang haram. Berkahilah apa-apa yang engkau berikan kepada kami.
Ya Allah. Berilah  kami karunia berupa menunaikan ibadah haji ke Baitullah yang suci dan berziarah ke makam RosulMu Muhammad Saw. Ya Allah, sampaikanlah niat kami mengujungi Ka’bahMu, mengunjungi Makkatul Mukaromah, Madinatul Munawaroh dan Kubur Penghulu kami Muhammad Saw.
Ya Allah,  ya Rohiim ya Jami’ ya Salam. Perbaikilah hubungan di antara kami, satukanlah di antara hati-hati kami, tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan. Selamatkanlah kami dari gelapnya kekufuruan, dan jauhkanlah kami dari kekejian.
Ya Allah, berikanlah kepada kami  hikmah dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah kami buah tutur yang baik bagi orang-orang  kemudian, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh keni'matan.
Ya Allah ya Rohman, turunkanlah kepada kami hujan. Hujan yang memberikan manfaat, hujan yang membawa keberkahan, hujan yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan.
Ya Allah, ya Wakil, ya Waliy, ya Shomad, ya Malikal mulki ya dzal jalali wal ikrom.
Hanya kepadamu kami berserah diri dan kembali.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعاَلَمِيْنَ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

2 komentar:

  1. assalamu'alaikum....

    salam kenal... sama2 blogger purbalingga nih... hee

    BalasHapus
    Balasan
    1. walaikumsalam, salam kenal kembali. terima kasih sudah berkunjung.
      bravo purbalingga!!!

      Hapus